Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Kisahmu

Hari itu secara tidak sengaja aku bertemu lagi dengan mu. Hujan rintik-rintik menemani awal perjumpaan kita kembali. Kudengar khas suaramu yang memanggilku dari belakang. Aku yang berlari-lari kecil karena tak ingin kebasahan, berhenti sejenak, diikuti oleh detak jantungku, yang kemudian berdegup seperti sedang lari marathon. "Dek, dek Ratna kan?" Aku mengangguk pelan seraya tak percaya. Mas Huda, mantan pacar saat aku masih SMA dulu yang sudah hampir 3 tahun tidak bertemu sejak pesta perpisahan akhirnya dipertemukan lagi dibawah rintik hujan di trotoar saat aku berjalan pulang dari kampus. Diiringi deru motor dan mobil yang berlalu lalang kami berbincang. Menanyakan kabar, bercanda, tertawa, mengenang masa lalu. Dan... rasa itu muncul lagi. Rasa yang dengan susah payah aku kubur dalam-dalam muncul kembali dengan tiba-tiba tanpa peringatan, dan tak bisa kucegah, atau lebih tepatnya tak ingin ku cegah. Dia masih sama seperti dahulu saat pertama kali ku mengenalnya, masih saja suka bercanda, suka tertawa, suka sekali mengejekku, dan membuatku terdiam tak bisa melawan.
Diawali dengan bertukar nomor hape, kami kembali menjalin hubungan yang telah lama terputus. Secercah harapan muncul, sebuah pertanyaan besar muncul, sebuah praduga muncul, dan mendapat sebuah pembuktian pada minggu berikutnya. Hari itu hari Minggu, cerah, tak ada awan yang melintasi langit, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Aku bersiap bertemu Mas Huda. Kami berjanji untuk makan siang disebuah restoran dekat dengan kos ku. Aku memakai baju terbagus yang aku punya, mandi berlama-lama, dan merias wajah ku. Dengan hati senang dan tentu saja gugup aku berjalan menuju tempat kami bertemu. Aku datang lima belas menit lebih awal, karena aku tak ingin dia menungguku. Lima belas menit berlalu dengan lambat, dan aku melihat bayangan tubuhnya dari balik jendela restoran. Detak jantungku semakin cepat, bibirku tak berhenti tersenyum. Namun itu hanya berlangsung satu menit saja. Pada menit selanjutnya, aku melihatnya menggandeng seorang perempuan, cantik. Yang selanjutnya aku tahu dia adalah kekasih Mas Huda. Ingin ku berlari pergi saat itu juga, menangis sejadi-jadinya, berteriak sekencang-kencangnya. Ini lebih menyakitkan daripada sikapnya yang selalu mengacuhkanku. Ini lebih menyakitkan daripada sikapnya yang tak pernah mau mengalah padaku. Ini lebih menyakitkan daripada dia yang yang tak pernah romantis padaku. Dan aku mulai menyukainya dalam diam.
Hanya dalam diam aku mampu menyukainya sesuka hatiku. Walau hanya dapat melihat dari jauh, walau mengerti jika tak mungkin bersama, aku tetap menyukainya. Walau dia mengacuhkanku, tak melihatku, tak berbicara dengan ku, aku tetap menyukainya. Walau hanya dapat melihat punggungnya, walau merasa sakit saat melihat dia bermesraan dengan pacarnya, aku tetap menyukainya. Walau sikapnya berubah, walau dia berusaha menghindari ku, aku tetap menyukainya. Akan selalu kurindukan saat kau memanggilku, dek Ratna.

Aku mengisahkanmu dengan dengan cara ku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memory About You

Sudah tiga tahun berlalu semenjak kau pergi meninggalkan aku. Namun, bayangan akan wajah mu tak juga hilang dari fikiran ku. Setiap malam kau selalu hadir menemaniku dalam mimpi-mimpi indah bersamamu. Kau adalah pria yang paling aku rindukan.
Tiga tahun telah berlalu, namun masih saja ku dengar lembut suara mu saat pertama kali kau menyanyikan ku sebuah lagu cinta. Tepat di halaman sekolah kau menyatakan perasaan mu pada ku lewat lagu yang kau nyanyikan dengan diiringi gitar kesayangan mu. Dengan wajah merah merona aku mengangguk malu saat kau memintaku menjadi pacar mu. Kau adalah pria paling manis sedunia.
Tiga tahun telah berlalu, namun masih lekat dalam ingatan, saat kau memberiku sebuah bouquet bunga pink rose kesukaanku sebagai hadiah satu bulan kebersamaan kita. Kau adalah pria paling romantis sedunia.
Tiga tahun telah berlalu, aku masih saja bisa mengingat aroma parfum yang selalu kau gunakan. Kau tak pernah mengganti parfum mu, hanya karena aku menyukai aromanya. Kau adalah pria paling wangi sedunia.
Tiga tahun telah berlalu, tapi aku masih saja merasa sedih saat teringat pertama kali kita bertengkar. Saat itu adalah saat dimana pertama dan terakhir kalinya kau membantakku dengan keras. Aku menyesal telah membuat mu marah. Namun aku hanya bisa menangis tanpa bisa menucapkan maaf. Dan kau malah memelukku dan meminta maaf karena telah membuat ku menangis. Kau adalah pria paling lembut sedunia.
Tiga tahun telah berlalu, dan aku masih saja ingat saat kau memberiku kejutan di hari ulang tahun ku. Tepat jam 12 malam, kau datang kerumah dengan membawa kue ulang tahun, dan sebuah boneka Teddy Bear berukuran besar. Itu adalah kejutan terindah dalam hidupku.
Tiga tahun telah berlalu, aku masih saja tidak bisa percaya kau telah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Aku masih ingat saat pertama kali kau mengatakan padaku bahwa kau sedang sakit. Sakit jantung. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan mu, dan kau meminta maaf untuk sebuah kesalahan yang tak kau perbuat. Masih jelas dalam ingatan saat pertama kalinya kau masuk ke rumah sakit. Aku sangat takut. Aku tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada mu. Dan lebih tepatnya aku belum siap untuk kehilangan mu. Kau selalu tersenyum saat aku datang untuk menjenguk mu. Tak pernah sepatah kata pun yang menyatakan kau sedang kesakitan, walaupun aku tau kau menahan rasa sakit itu karena tak ingin melihatku menangis. "aku akan selalu bersama mu, tak akan pernah ku tinggalkan dirimu sayang" selalu saja kata-kata itu yang kau ucapkan padaku.
Namun Tuhan hendaknya mempunyai rencana yang lain. Tiga tahun yang lalu kau pergi meninggalkan dunia ini setelah menjalani operasi jantung. Kau meninggalkan ku Randy. Dan setelah tiga tahun telah terlewati, aku masih saja mencintaimu. Kau adalah pria yang paling aku rindukan.
Aku mencintaimu Randy untuk selamanya.


18 Agustus 2012, happy 4th anniversary

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Love Story (1)

Dinginnya salju di London tak mengurngkan niatku untuk berjalan melewati malam hanya demi secangkir kopi hangat, dan untuk melihat wajahnya. Dia yang selalu datang ke cafe ini tepat jam 20.00 dan duduk di dekat jendela membuat hatiku penasaran. Pipinya yang memerah karena udara yang dingin membuat ku teringat pada Tintin. Sungguh sangat lucu melihat seorang laki-laki yang seperti memakai blush-on. Sudah hampir setahun aku berada di negeri asing ini hany untuk menuntut ilmu yang bukan merupakan impian ku. Mengejar sesuatu tapi masih saja terasa kosong, entah kenapa. Ayah, Ibu, dan keluarga besarku memamerkan kesuksesanku dapat melanjutkan pendidikan S2 ku di luar negeri. Di Inggris. Suatu negara yang ingin ku kunjungi karena tempat Harry Potter dan Sherlock Holmes tinggal. Hanya sesedehana itu tujuan ku kesini, dan tentu saja untuk salju. Benda putih nan indah yang melayang diudara bagaikan bintang yang berjatuhan dari langit, aku ingin memegangnya, menggenggam, dan merasakannya. Aku suka salju. Sangat suka. Dan aku juga suka dia yang selalu memandang ke arah jendela, mengamati tiap salju yang berjatuhan. Pernah terpikir olehku aku ingin berubah menjadi salju agar dia dapat memandangi ku selalu. Saat memikirkan itu ak jadi tersipu malu, persis seperti waktu aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, saat pertama kali jatuh cinta. Aneh memang tapi aku menyukainya. Menyukai perasaan ini. Aku tak pernah tau siapa namanya, alamat rumahnya, atau nomor telepon. Yang ku tahu dia selalu datang ke cafe ini setiap hari saat jam 20.00, dan aku akan berlari-lari dari apartemen ku yang tidak jauh dari cafe ini. Hanya untuk memandanginya, seseorang yang bahkan tak pernah menoleh kearahku. Laki-laki tampan itu. Aku menyukainya. Dan aku berharap dapat mengetahui namanya. Hanya nama. 
***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS