Hari itu secara tidak sengaja aku bertemu lagi dengan mu. Hujan rintik-rintik menemani awal perjumpaan kita kembali. Kudengar khas suaramu yang memanggilku dari belakang. Aku yang berlari-lari kecil karena tak ingin kebasahan, berhenti sejenak, diikuti oleh detak jantungku, yang kemudian berdegup seperti sedang lari marathon. "Dek, dek Ratna kan?" Aku mengangguk pelan seraya tak percaya. Mas Huda, mantan pacar saat aku masih SMA dulu yang sudah hampir 3 tahun tidak bertemu sejak pesta perpisahan akhirnya dipertemukan lagi dibawah rintik hujan di trotoar saat aku berjalan pulang dari kampus. Diiringi deru motor dan mobil yang berlalu lalang kami berbincang. Menanyakan kabar, bercanda, tertawa, mengenang masa lalu. Dan... rasa itu muncul lagi. Rasa yang dengan susah payah aku kubur dalam-dalam muncul kembali dengan tiba-tiba tanpa peringatan, dan tak bisa kucegah, atau lebih tepatnya tak ingin ku cegah. Dia masih sama seperti dahulu saat pertama kali ku mengenalnya, masih saja suka bercanda, suka tertawa, suka sekali mengejekku, dan membuatku terdiam tak bisa melawan.
Diawali dengan bertukar nomor hape, kami kembali menjalin hubungan yang telah lama terputus. Secercah harapan muncul, sebuah pertanyaan besar muncul, sebuah praduga muncul, dan mendapat sebuah pembuktian pada minggu berikutnya. Hari itu hari Minggu, cerah, tak ada awan yang melintasi langit, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Aku bersiap bertemu Mas Huda. Kami berjanji untuk makan siang disebuah restoran dekat dengan kos ku. Aku memakai baju terbagus yang aku punya, mandi berlama-lama, dan merias wajah ku. Dengan hati senang dan tentu saja gugup aku berjalan menuju tempat kami bertemu. Aku datang lima belas menit lebih awal, karena aku tak ingin dia menungguku. Lima belas menit berlalu dengan lambat, dan aku melihat bayangan tubuhnya dari balik jendela restoran. Detak jantungku semakin cepat, bibirku tak berhenti tersenyum. Namun itu hanya berlangsung satu menit saja. Pada menit selanjutnya, aku melihatnya menggandeng seorang perempuan, cantik. Yang selanjutnya aku tahu dia adalah kekasih Mas Huda. Ingin ku berlari pergi saat itu juga, menangis sejadi-jadinya, berteriak sekencang-kencangnya. Ini lebih menyakitkan daripada sikapnya yang selalu mengacuhkanku. Ini lebih menyakitkan daripada sikapnya yang tak pernah mau mengalah padaku. Ini lebih menyakitkan daripada dia yang yang tak pernah romantis padaku. Dan aku mulai menyukainya dalam diam.
Hanya dalam diam aku mampu menyukainya sesuka hatiku. Walau hanya dapat melihat dari jauh, walau mengerti jika tak mungkin bersama, aku tetap menyukainya. Walau dia mengacuhkanku, tak melihatku, tak berbicara dengan ku, aku tetap menyukainya. Walau hanya dapat melihat punggungnya, walau merasa sakit saat melihat dia bermesraan dengan pacarnya, aku tetap menyukainya. Walau sikapnya berubah, walau dia berusaha menghindari ku, aku tetap menyukainya. Akan selalu kurindukan saat kau memanggilku, dek Ratna.
Aku mengisahkanmu dengan dengan cara ku.
Kisahmu
12.46 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar