Hujan sedari tadi tak kunjung reda. Udara dingin pun perlahan-lahan merambat menyentuh kulit. Walau begitu, hujan dan udara dingin tak menghentikan tekadnya untuk mencarg kelaparan menunggunya pulang, membuatnya tak gentar mengayuh becak tuanya yang tak kalah tua dengan usianya. Aku yang sedari tadi menunggu angkot akhirnya menyerah dan memanggil becak. "pak. Becak pak." kataku setengah berteriak. "mau kemana neng?" tanyanya padaku. "wates ya pak. 10.000?". "iya neng." bapak tukang becak itu pun mulai mengayuh becaknya. "pak, kok tidak pakai jas hujan?" tanyaku heran. "aduh neng, buat makan saja tidak cukup, apa lagi buat beli jas hujan." kata bapak itu membuat hatiku terasa tersayat. "anak saya ada lima neng, yang pertama dan kedua sudah menikah, yang ketiga masih SMA, yang keempat SMP, yang kelima belum sekolah", lanjut bapak itu. Hatiku semakin hancur dibuatnya. Setelah itu aku terbenam dalam pikiranku yang semakin miris melihat kelanjutan nasib rakyat-rakyat kecil di negara tercinta ku ini. Tak terasa aku sudah ada di depan rumah. Buru-buru aku mengeluarkan lembar uang 50.000. "ah. Neng sebentar kembaliannya belum". "kembaliannya buat bapak saja, anggap saja rejeki dari tuhan pak". "terimakasih neng, terimakasih". Lalu aku bergegas masuk ke dalam rumah ku yang hangat.
Hujan Tak Menghentikan Langkah Ku
03.19 |
Surabaya, 19 November 2011
Read User's Comments0
Langganan:
Postingan (Atom)






