Malam ini pengen nulis unek-unek tentang kritik dari teman, bahkan kekasih. "Dewasalah Ratna, dewasa!" Itu sih kata-kata yang hampir selalu ku dengar, saat aku mulai bertingkah lucu, atau mengeluarkan suara-suara aneh, haha. Menurutku aku sudah dewasa kok, mereka saja yang kurang dewasa. Mereka masih sering memaksakan ego mereka untuk memaksaku menjadi dewasa versi mereka. Dewasa itu apa sih? Menurut wikipedia -walaupun dalam penulisan ilmiah wikipedia merupakan sumber yang diragukan ke valid-an nya, tapi karena tulisan ini bukan tulisan ilmiah, jadi sah-sah saja jika aku pake sumber wikipedia, dan karena pertimbangan kemudahan dalam mengaksesnya- istilah dewasa menggambarkan segala organisme yang telah matang, tapi lazimnya merujuk pada manusia: orang yang bukan lagi anak-anak dan telah menjadi pria atau wanita dewasa. Saat ini Dewasa dapat didefinisikan dari aspek biologi yaitu sudah akil baligh, hukum sudah berusia 16 tahun ke atas atau sudah menikah, menurut Undang-undang perkawinan yaitu 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita dan karakter pribadi yaitu kematangan dan tanggung jawab. Berbagai aspek kedewasaan ini sering tidak konsisten dan kontradiktif. Seseorang dapat saja dewasa secara biologis, dan memiliki karakteristik perilaku dewasa, tapi tetap diperlakukan sebagai anak kecil jika berada di bawah umur dewasa secara hukum. Sebaliknya, seseorang dapat secara legal dianggap dewasa, tapi tidak memiliki kematangan dan tanggung jawab yang mencerminkan karakter dewasa. "Dewasa" kadang juga berarti "tidak dianggap cocok untuk anak-anak", terutama sebagai suatu eufimisme yang berkaitan dengan perilaku seksual, seperti hiburan dewasa, video dewasa, majalah dewasa, serta toko buku dewasa. Tetapi, pendidikan orang dewasa hanya berarti pendidikan untuk orang dewasa, dan bukan spesifik pendidikan seks. Menurut psikologi (http://www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan-manusia/06511465), dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tugapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.
Nah kan, arti kata dewasa itu dapat dilihat dari banyak aspek kehidupan. Bukan hanya dari satu sisi saja. Jadi jika aku sedang bertingkah aneh dan lucu, itu bukan merupakan parameter sejati kalau aku belum dewasa. Secara biologis aku sudah dewasa kok. Dan secara psikologis, aku masih berproses didalamnya, begitu juga kalian. Jadi, stop menyuruhku untuk menjadi dewasa, suruhlah dirimu sendiri untuk dewasa, karena kalian juga belum dewasa.
Mojokerto, 17 September 2013 23:37 WIB
Menurutku Aku Sudah Dewasa Kok!
Kata Pengantar Skripsi
Kisahmu
Hari itu secara tidak sengaja aku bertemu lagi dengan mu. Hujan rintik-rintik menemani awal perjumpaan kita kembali. Kudengar khas suaramu yang memanggilku dari belakang. Aku yang berlari-lari kecil karena tak ingin kebasahan, berhenti sejenak, diikuti oleh detak jantungku, yang kemudian berdegup seperti sedang lari marathon. "Dek, dek Ratna kan?" Aku mengangguk pelan seraya tak percaya. Mas Huda, mantan pacar saat aku masih SMA dulu yang sudah hampir 3 tahun tidak bertemu sejak pesta perpisahan akhirnya dipertemukan lagi dibawah rintik hujan di trotoar saat aku berjalan pulang dari kampus. Diiringi deru motor dan mobil yang berlalu lalang kami berbincang. Menanyakan kabar, bercanda, tertawa, mengenang masa lalu. Dan... rasa itu muncul lagi. Rasa yang dengan susah payah aku kubur dalam-dalam muncul kembali dengan tiba-tiba tanpa peringatan, dan tak bisa kucegah, atau lebih tepatnya tak ingin ku cegah. Dia masih sama seperti dahulu saat pertama kali ku mengenalnya, masih saja suka bercanda, suka tertawa, suka sekali mengejekku, dan membuatku terdiam tak bisa melawan.
Diawali dengan bertukar nomor hape, kami kembali menjalin hubungan yang telah lama terputus. Secercah harapan muncul, sebuah pertanyaan besar muncul, sebuah praduga muncul, dan mendapat sebuah pembuktian pada minggu berikutnya. Hari itu hari Minggu, cerah, tak ada awan yang melintasi langit, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Aku bersiap bertemu Mas Huda. Kami berjanji untuk makan siang disebuah restoran dekat dengan kos ku. Aku memakai baju terbagus yang aku punya, mandi berlama-lama, dan merias wajah ku. Dengan hati senang dan tentu saja gugup aku berjalan menuju tempat kami bertemu. Aku datang lima belas menit lebih awal, karena aku tak ingin dia menungguku. Lima belas menit berlalu dengan lambat, dan aku melihat bayangan tubuhnya dari balik jendela restoran. Detak jantungku semakin cepat, bibirku tak berhenti tersenyum. Namun itu hanya berlangsung satu menit saja. Pada menit selanjutnya, aku melihatnya menggandeng seorang perempuan, cantik. Yang selanjutnya aku tahu dia adalah kekasih Mas Huda. Ingin ku berlari pergi saat itu juga, menangis sejadi-jadinya, berteriak sekencang-kencangnya. Ini lebih menyakitkan daripada sikapnya yang selalu mengacuhkanku. Ini lebih menyakitkan daripada sikapnya yang tak pernah mau mengalah padaku. Ini lebih menyakitkan daripada dia yang yang tak pernah romantis padaku. Dan aku mulai menyukainya dalam diam.
Hanya dalam diam aku mampu menyukainya sesuka hatiku. Walau hanya dapat melihat dari jauh, walau mengerti jika tak mungkin bersama, aku tetap menyukainya. Walau dia mengacuhkanku, tak melihatku, tak berbicara dengan ku, aku tetap menyukainya. Walau hanya dapat melihat punggungnya, walau merasa sakit saat melihat dia bermesraan dengan pacarnya, aku tetap menyukainya. Walau sikapnya berubah, walau dia berusaha menghindari ku, aku tetap menyukainya. Akan selalu kurindukan saat kau memanggilku, dek Ratna.
Aku mengisahkanmu dengan dengan cara ku.
Memory About You
Sudah tiga tahun berlalu semenjak kau pergi meninggalkan aku. Namun, bayangan akan wajah mu tak juga hilang dari fikiran ku. Setiap malam kau selalu hadir menemaniku dalam mimpi-mimpi indah bersamamu. Kau adalah pria yang paling aku rindukan.
Tiga tahun telah berlalu, namun masih saja ku dengar lembut suara mu saat pertama kali kau menyanyikan ku sebuah lagu cinta. Tepat di halaman sekolah kau menyatakan perasaan mu pada ku lewat lagu yang kau nyanyikan dengan diiringi gitar kesayangan mu. Dengan wajah merah merona aku mengangguk malu saat kau memintaku menjadi pacar mu. Kau adalah pria paling manis sedunia.
Tiga tahun telah berlalu, namun masih lekat dalam ingatan, saat kau memberiku sebuah bouquet bunga pink rose kesukaanku sebagai hadiah satu bulan kebersamaan kita. Kau adalah pria paling romantis sedunia.
Tiga tahun telah berlalu, aku masih saja bisa mengingat aroma parfum yang selalu kau gunakan. Kau tak pernah mengganti parfum mu, hanya karena aku menyukai aromanya. Kau adalah pria paling wangi sedunia.
Tiga tahun telah berlalu, tapi aku masih saja merasa sedih saat teringat pertama kali kita bertengkar. Saat itu adalah saat dimana pertama dan terakhir kalinya kau membantakku dengan keras. Aku menyesal telah membuat mu marah. Namun aku hanya bisa menangis tanpa bisa menucapkan maaf. Dan kau malah memelukku dan meminta maaf karena telah membuat ku menangis. Kau adalah pria paling lembut sedunia.
Tiga tahun telah berlalu, dan aku masih saja ingat saat kau memberiku kejutan di hari ulang tahun ku. Tepat jam 12 malam, kau datang kerumah dengan membawa kue ulang tahun, dan sebuah boneka Teddy Bear berukuran besar. Itu adalah kejutan terindah dalam hidupku.
Tiga tahun telah berlalu, aku masih saja tidak bisa percaya kau telah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Aku masih ingat saat pertama kali kau mengatakan padaku bahwa kau sedang sakit. Sakit jantung. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan mu, dan kau meminta maaf untuk sebuah kesalahan yang tak kau perbuat. Masih jelas dalam ingatan saat pertama kalinya kau masuk ke rumah sakit. Aku sangat takut. Aku tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada mu. Dan lebih tepatnya aku belum siap untuk kehilangan mu. Kau selalu tersenyum saat aku datang untuk menjenguk mu. Tak pernah sepatah kata pun yang menyatakan kau sedang kesakitan, walaupun aku tau kau menahan rasa sakit itu karena tak ingin melihatku menangis. "aku akan selalu bersama mu, tak akan pernah ku tinggalkan dirimu sayang" selalu saja kata-kata itu yang kau ucapkan padaku.
Namun Tuhan hendaknya mempunyai rencana yang lain. Tiga tahun yang lalu kau pergi meninggalkan dunia ini setelah menjalani operasi jantung. Kau meninggalkan ku Randy. Dan setelah tiga tahun telah terlewati, aku masih saja mencintaimu. Kau adalah pria yang paling aku rindukan.
Aku mencintaimu Randy untuk selamanya.
My Love Story (1)
Hujan Tak Menghentikan Langkah Ku
Hujan sedari tadi tak kunjung reda. Udara dingin pun perlahan-lahan merambat menyentuh kulit. Walau begitu, hujan dan udara dingin tak menghentikan tekadnya untuk mencarg kelaparan menunggunya pulang, membuatnya tak gentar mengayuh becak tuanya yang tak kalah tua dengan usianya. Aku yang sedari tadi menunggu angkot akhirnya menyerah dan memanggil becak. "pak. Becak pak." kataku setengah berteriak. "mau kemana neng?" tanyanya padaku. "wates ya pak. 10.000?". "iya neng." bapak tukang becak itu pun mulai mengayuh becaknya. "pak, kok tidak pakai jas hujan?" tanyaku heran. "aduh neng, buat makan saja tidak cukup, apa lagi buat beli jas hujan." kata bapak itu membuat hatiku terasa tersayat. "anak saya ada lima neng, yang pertama dan kedua sudah menikah, yang ketiga masih SMA, yang keempat SMP, yang kelima belum sekolah", lanjut bapak itu. Hatiku semakin hancur dibuatnya. Setelah itu aku terbenam dalam pikiranku yang semakin miris melihat kelanjutan nasib rakyat-rakyat kecil di negara tercinta ku ini. Tak terasa aku sudah ada di depan rumah. Buru-buru aku mengeluarkan lembar uang 50.000. "ah. Neng sebentar kembaliannya belum". "kembaliannya buat bapak saja, anggap saja rejeki dari tuhan pak". "terimakasih neng, terimakasih". Lalu aku bergegas masuk ke dalam rumah ku yang hangat.






