Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pelangi di Langit Jogjakarta

Rintik hujan telah menemaniku seharian ini menapaki jalan di kota Jogjakarta.
Langit gelap menambah mendung raut wajah ku yang memang sudah buram semenjak aku melarikan diri dari rumah seminggu yang lalu.
Aku marah pada Bunda dan Ayah yang tidak mau mendengar keinginan ku.
Aku memilih Jogja sebagai kota pelarianku.
Niat ingin jalan-jalan mengitari kota Jogja kandas karena hujan yang sama sekali tak bisa diajak kompromi.
Akhirnya hanya bisa mengitari sekitar Jalan Malioboro saja.

Hujan berhenti tepat saat mataku menemukan sosoknya.
Sosok tegap yang memakai kemeja putih dengan kamera menggantung di lehernya.
Sesaat waktu serasa berhenti berputar.
Sesaat di sini hanya ada aku dan dia.

Aku melihat di balik punggungnya, keheranan sekaligus terpesona.
Apa yang tengah dia lakukan di tengah rintik hujan tadi?

Ternyata dia memotret senyum-senyum pelangi dari raut wajah anak-anak jalanan yang basah terena rintikan hujan dan cipratan genangan air di jalan.
Senyum yang melukiskan warna-warna ketulusan.
Yang tak pernah ku temui di hidupku yang penuh dengan kapalsuan.

Senyum yang bisa membawa kebahagiaan sekaligus kesedihan.
Senyum yang menyejukkan setiap mata yang melihatnya.
Senyum yang menggetarkan jiwa setiap manusia.

Sosok itu kemudian menoleh ke arahku dan memberiku segaris senyum indah.
Aku pun tersenyum kepadanya entah karena senang dia mengetahui keberadaan ku, atau karena pelangi yang dia bawa.

Terimakasih telah menunjukkanku pelangi di langit Jogjakarta.






Untuk dia yang sampai sekarang tak pernah ku tahu siapa namanya. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar